Berbagai olahan keripik hunian tetap Dongkelsari

(HUNTAP DONGKELSARI)– Suka cemilan yang gurih dan pedas? Belakangan ini cemilan gurih dan pedas menjadi favorit masyarakat. Industri rumah tanggapun mulai menjamur di tengah masyarakat. Pemasaran dan promosi yang dilakukan industri rumah tangga pun beragam. Mulai dari mulut ke mulut, pemasaran melalui iklan di media dan tak kalah media on line juga berperan dalam pemasarannya.

Ditemui di rumahnya (21/10/15) Sumirah (53) mengungkapkan produk Merapi Bangkit yang berdiri tahun 2011 dan merupakan nama Kelompok Tani Jamur Tiram ini awalnya dipromosikan oleh orang-orang yang memberinya pelatihan dulu, lalu dari mulut ke mulut, dan akhirnya sampai ke toko-toko kecil dan swalayan. Sekarang ini produk keripik Merapi Bangkit juga dijual melalui on line. Produk ini dipasarkan oleh Yunis (25) melalui on line dan sudah sampai seluruh wilayah Indonesia. Yunis merupakan orang yang memasarkan produk kepada teman-temannya di luar kota.

“Aku memasarkan kripik hasil karya ibu-ibu yang selama ini sulit dalam pemasaran. Nah salah satunya produk mbak Sum. Jadi selama ini aku langsung ke konsumen. Pelangganku masih temen sendiri sih, antara lain Bandung, Sampit, Samarinda, Madura, Semarang, Lombok, Belitung dan Malang” kata Yunis yang merupakan assisten dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.

Setiap mengirimkan produknya ke toko kecil atau swalayan Sumirah bisa menjual 50 bungkus berbagai macam varian keripik dengan ukuran 250 gram yang bisa habis dalam waktu 1 sampai dengan 2 minggu. Sumirah menjelaskan harga yang ditawarkan dari produknya berkisar antara Rp. 32.500,00 sampai dengan Rp. 80.000 per kilogram atau dijual Rp. 8.000,00 dalam kemasan 250 gram. Varian keripik yang dijual pun beragam mulai dari keripik jamur, keripik pisang, keripik kentang dan keripik Tales (Keripik dari ketela pohon). Varian rasa yang dijual dari keripik-kripik ini pun beragam.

“Rasa criping (kripik) pisang manis dan gurih, criping (kripik) tales pedes gurih, teros manggleng pedes gurih, kentang gurih, dan jamur gurih” jelasnya.

Kripik-kripik produksi Sumirah ini sudah memiliki ijin dari Dinas Kesehatan dan dalam proses untuk memiliki ijin dari BPOM/POM. Perbedaan dari produk kripik produksi Merapi Huntap Dongkelsari dengan keripik yang lain adalah tidak memakai bahan pengawet buatan dan diambil dari bahan alami. (Harga sewaktu waktu dapat berubah)

Kan kalau kripik sendiri kan alami, kalau orang lain kan sana-sana kan perusahaan besar to kan aneh-aneh pakek pengawet. Kan kalo warna merah itu pewarnanya cabe merah bisa, kalau kuning itu pakekkunyit. Bumbunya bawang, garam, tidak pakek micin” ujarnya.

Usaha kripik yang ada di Hunian Tetap Dongklesari ini dulunya bermodal Rp 200.000,00 sekarang bisa menghasilkan penghasilan kotor Rp. 600.000,00/minggu. Setiap harinya Sumirah memiliki persediaan kripik-kripik dirumahnya. Ibu dari 4 orang anak dan 3 cucu ini mengungkapkan perasaannya menjadi seorang wirausaha industi rumah tangga berbagai macam kripik kepada Suara Warga.

“Senang, ya saya senang kalau mau beli apa ndak usah capek-capek cari duit. Kan dulu kalo musim tanam ikut jadi penanam padi. Kalo sekarang kan enggak. Ya kalo dukanya ya kalo capek ndak bisa tidur” katanya.

Istri dari Susilo raharjo (53) menuturkan tidak ada kendala saat musim kemarau untuk memperoleh bahan-bahan yang digunkan. Jika bahan ada tidak ada kendala baginya untuk berproduksi, sebaliknya jika bahan tidak ada makan kripiknya tidak bisa berproduksi. Dalam sehari dirinya maksimal bisa membuat 10 kg/kripik dan khusus untuk kripik kentang dan jamur harus pesan dahulu karena kendala bahan yang mahal.

Sumirah berharap bisa menyekolahkan anaknya, mudah-mudahan besok bisa sampai kerja. Saya maunya anak saya bisa pintar sekolahnya, tidak sombong, tidak nakal, biar nurut sama bapak dan mamaknya. Semoga lancar dan langgeng usahanya, sehat satu keluarga dan ada bahan terus.

Nah, tertarik? Bisa pesan langung ke nomer 085878779031 (Sumirah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *