REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Desa Wukirsari di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, masuk dalam nominasi Desa Terbaik Nasional 2018. Desa Wukirsari masuk kategori prakarsa dan inovasi desa.

Hal itu disampaikan langsung Tim Penilai Pusat saat mengunjungi Balai Desa Wukirsari yang diterima Bupati Sleman. Bupati Sleman, Sri Purnomo, mengaku bangga atas prestasi tersebut.

Ia menilai, raihan itu dapat terealisasi karena Pemerintah Desa Wukirsari dapat membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat. Sehingga, usaha-usaha membangun dan memajukan dapat dilakukan efektif.

“Melalui berbagai inovasi yang telah dilakukan diharapkan dapat memberikan kemudahan pelayanan publik bagi masyarakat,” kata Sri, Sabtu (6/10).

Muhammad Rifai mewakili Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi berharap, inovasi yang telah dilakukan masyarakat tidak terhenti setelah penilaian ini saja.

Rifai berharap, kegiatan-kegiatan positif yang telah dilaksanakan dapat terus berlanjut ke depan. Ia berpendapat, kegiatan-kegiatan itu akan berdampak bagik bagi kesejahteraan masyarakat.

“Jangan sampai inovasi ini selesai setelah lomba karena salah satu tujuan dari lomba ini supaya desa yang sudah baik dapat menjadi contoh bagi desa lain,” ujar Rifai.

Pemerintah Desa Wukirsari sendiri telah membuat beberapa inovasi, sehingga menjadi kandidat Desa Terbaik Nasional 2018. Salah satunya, memanfaatkan Sistem Pemandaatan Data Kependudukan (Sidampak).

Pemanfaatan dilaksanakan untuk memudahkan pelayanan administrasi kependudukan. Program ini ditujukan demi terciptakan tata kelola pemerintahan desa yang baik dan transpraran.

Dalam pemanfaatan teknologi informasi, keberhasilan Desa Wukirsari kini telah ditiru lebih dari 70 desa lain di Kabupaten Sleman. Keberhasilan itu akan pula diduplikasi 12 desa lain di Jawa Barat.

Selain itu, Desa Wukirsari menciptakan inovasi Program Sekolah Pintar yang merupakan pendidikan karakter untuk menekan angka pernikahan usia dini. Program ini jadi usaha pencegahan tindak bullying dan kekerasan rumah tangga.

Program turut menyasar pemberian pengetahuan reproduksi bagi remaja usia produktif dan pengetahuan pengasuhan anak. Bahkan, Desa Wukirsari telah mengembangkan Program Konservasi Burung Hantu, Tyto Alba.

Berita Terkait

Pengembangan itu dilakukan dengan menjadikannya sebagai predator alami hama tikus. Keberadaan burung hantu ini telah berhasil meningkatkan produksi gabah di Desa Wukirsari hingga 31 ton dari sebelumnya yang hanya delapan ton

Kutipan dari   Harian Nasional Republika